Minggu, 05 Juni 2016

Ciherang Jumbo




Varitas padi Ciherang, kebanyakan petani menyebutnya dengan Serang, yang dikeluarkan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi ( BB PADI ) pada tahun 2000, hingga tahun 2016 masih sangat digemari oleh kebanyakan petani. Mengapa...? Varitas Ciherang termasuk jenis padi yang legendaris, dengan hasil panen yang memuaskan dan rasa yang cukup enak bagi konsumen Indonesia. Itulah mengapa sebagian besar petani di Jawa masih menggemari untuk menanam padi jenis ini, walupun usianya sudah cukup lama; diatas 15 tahun. Barangkali hanya bisa dikalahkan oleh IR 64 yang diluncurkan sekitar tahun 1986 dengan berulang kali tanam ulang lebih dari 30 tahun.
Kedua varitas tersebut, menurut pengalaman saya sudah mengalami penurunan ketahanan diri, dalam bahasa pemulia tanaman padi telah mengalami penyimpangan genetik. Nampak dari tidak tahan terhadap serangan hama wereng, potong leher ( blast ) dan penyakit padi lainnya. BB PADI sudah menyarankan kepada para petani untuk beralih ke varitas lain, namun karena hasil panen, khususnya Ciherang masih cukup bagus maka beralih ke varitas lain masih sulit. Sehingga jika petani menjelang musim tanam yang ada dalam pikirannya adalah mencari benih Ciherang. Resiko terserang penyakit dipikir belakangan, jika telah diupayakan dan penyakit masih juga datang, itu bagian dari resiko menanam, yang sulit dilepaskan dari pengaruh cuaca. Singkat kata jika, menanam jenis Ciherang adalah jaminan mutu. Bermula dari sinilah maka bermunculan berbagai varian lain yang konon khabarnya dikeluarkan oleh perorangan misalnya Ciherang : Jumbo, Dempo, Prima, Super; dan entah apalagi namanya. 

Saya punya pengalaman menanam varitas Ciherang Jumbo, bermula dari keinginan untuk meningkatkan hasil panen, syukur2 bisa terhindar dari berbagai penyakit yang menghantui.
Bertahun tahun jika musim tanam rendheng tiba, istilah umumnya adalah Musim Tanam ke 1 ( MT 1 ), saya selalu mencari benih padi Ciherang SS di toko pertanian. Harganya bervariasi, kebanyakan sekitar Rp. 65.000 per kantong 5 Kg. 
Dari pembicaraan rekan sesama petani, ada yang mengatakan Ciherang varian Jumbo cukup bagus. Jadilah saya mencari benih padi jenis ini : Ciherang Jumbo, kebiasaan saya jika menanam padi jenis baru, yang belum pernah pengalaman mencobanya, selalu saya tanam di musim 'gadhu' atau MT 2. Tujuannya adalah musim gadhu biasanya curah hujan sudah berkurang, demikian juga dengan angin yang tidak terlalu kuat. Resiko ambruk / rebah bisa berkurang.

Ritual menanam dijalani seperti biasa, mulai dari menyemai benih. Biasanya benih setelah ditebar saya tutup dengan arang sekam, minta dari tetangga yang punya pabrik tahu. Arang sekam punya khasiat yang bagus untuk menyuburkan tanah, entah apa sebabnya bekas tanah yang dipakai untuk lahan persemaian yang ditaburi dengan arang sekam tanaman jadi subur. Walaupun ini bukan kompos. Jarang sekali lahan saya tebari kompos, berat di ongkos tenaga kerja, belum lagi mencari kotoran kambing, maupun sapi gampang2 susah. Sebenarnya kasihan juga itu tanah, jarang diberi kompos, tukang traktor mesti sambat "lemah nggonmu ko' mesti uatos eram, nyang boyok keju, bayarane tambahono nek no..." Walaaaah... panen aja belum bayaran dah minta tambah....!

Ciherang varian Jumbo, memang sesuai dengan namanya, postur tubuhnya tinggi, jika anda blusukan diantara rumpun padi yang sedang berbunga maka akan sebatas leher, malainya juga panjang. Beberapa tetangga sawah terheran heran dengan padi jenis ini. Banyak yang tanya2 cari benihnya dimana, ada yang mau minta benih; bahkan ada yang menebak nebak " iki engko nek wis panen mesti oleh 10 ton per hektar" Biyuuhhh... tenane kang, lak cepet sugih aku....!

Anakan agak kurang, tapi posturnya tinggi


Ciherang Jumbo malainya mulai merunduk

Tahun 2016 hingga bulan April curah hujan masih cukup tinggi, konon menurut para ahli cuaca ini adalah efek dari badai El Nino yang melanda Asia Tenggara. Sehingga bulan April dan Mei yang mestinya curah hujan sudah mulai berkurang, masih tetap mengucur deras. bahkan disertai angin lesus. Dibeberapa sawah tetangga padai malai padi yang sudah mulai terisi sudah banyak yang rebah.
Saat itu bulan Mei 2016, Serang Jumbo yang malainya mulai terisi terlihat kelelahan menahan beban saat diguyur hujan dan diterpa angin. Beberapa tempat sudah mulai rebah, perasaan sudah mulai ketar ketir, alamat kesulitan mencari pekerja tukang panen. Ketika mulai rebah masih berusia sekitar 75 hari, terpaksa beberpa rumpun diikat jadi satu agar bisa tegak kembali, sekaligus untuk menghindari butiran padi membusuk.

Serang Jumbo mulai rebah diterjang angin
Awalnya batang rebah hanya di satu, dua tempat; biasanya berada di lokasi yang tanahnya agak rendah, sehingga tanah terlalu lembek. Namun lama lama rebah menjalar semakin luas. Harusnya pada musim tanam ke 2, jika dirasa curah hujan masih cukup tinggi pupuk kimia agak dikurangi. Kalau MT 1 jatah pupuk 80 Kg per kotak alias 560 per Ha. Untuk MT 2 dalam kondisi normal, ketika hujan mulai jarang jatah pupuk adalah 100 Kg per kotak atau 700 per Ha. Namun siapa bisa menebak musim, sedangkan para ahli cuaca sekalipun sering salah tebak.



Rebah semakin bertambah banyak
Hingga usia ke 90 hari seluruh area yang saya tanami Ciherang Jumbo semuanya rebah, hampir tak ada yang berdiri kecuali di tepian pematang. Mengikat beberapa rumpun jadi satu agar tegak jelas sudah tidak mungkin, akan menghabiskan biaya yang terlalu banyak. Jalan satu satunya hanya bisa pasrah pada keadaan.
Beruntunglah pekerja panen ( dereb ) sudah langganan, meskipun rebah rombongan mereka tetap mau memanennya. Rupanya mereka sadar " Yen ono penake dirasakne bareng, nanging yen keno musibah disonggo bareng bareng" Indahnya kebersamaan...




Walaupun hampir seluruhnya rebah, tapi karena kesengsemnya saya dengan padi jenis ini, maka beberapa malai yang masih tetap berdiri dipilih untuk dijadikan benih pada musim tanam ke 2 tahun depan.

Mudah mudahan tahun depan musibah rebah tidak terulang lagi.
Amiin.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar